Debat – (Pengertian, Format, Unsur, Argumentasi dan Sanggahan)

Diposting pada

Debat – (Pengertian, Format, Unsur dan Argumentasi) – Berbagai alasan yang mendorong orang untuk berdebat, antara lain meyakinkan orang lain bahwa opini dia lebih baik, mendengarkan opini orang lain terhadap suatu isu, menemukan solusi yang terbaik untuk suatu masalah, dan lain‐lain. Tujuan dari perlombaan debat kompetitif adalah meyakinkan juri bahwa argumentasi‐argumentasi yang dibangun oleh suatu tim lebih kuat dibandingkan argumentasi lawannya. Oleh karena itu,individu yang terlibat dalam debat mendapatkan kesempatan berpikir kritis dan analitis dan mampu berbicara di depan umum.

Debat - (Pengertian, Format, Unsur dan Argumentasi)

A. Pengertian Debat

Debat merupakan pertentangan argumentasi. Untuk setiap isu, pasti terdapat berbagai sudut pandang terhadap isu tersebut: alasan‐alasan mengapa seseorang dapat mendukung atau tidak mendukung suatu isu. Tujuan dari debat adalah untuk mengeksplorasi alasan‐alasan di belakang setiap sudut pandang. Agar alasan tersebut dapat dimengerti secara persuasif, pembicara dalam suatu debat seharusnya menyampaikan argumentasinya dengan kemampuan komunikasinya yang baik.

Perlombaan debat kompetitif merupakan debat yang menggunakan suatu format tertentu. Dengan adanya format khusus, setiap orang dapat secara tertib berbicara pada gilirannya, dan diberikan waktu dan kesempatan untuk membuktikan poin yang ingin dia sampaikan. Hal ini memberikan motivasi untuk orang lain, tidak hanya untuk menyampaikan pendapatnya, namun juga untuk mendengarkan sisi lain dalam sebuah isu. Terdapat banyak format dalam debat: format Karl Popper, format British Parliamentary, format Australasian, format World Schools, dan lain‐lain. Yang belum ditemukan dalam perlombaan debat kompetitif pada saat ini adalah format debat bahasa Indonesia yang khas dalam merepresentasikan watak dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, diharapkan format debat bahasa Indonesia yang disampaikan dalam buku panduan ini dapat merupakan awal terciptanya budaya debat bahasa Indonesia yang sehat.

Debat bukanlah suatu diskusi karena debat tidak menghasilkan kompromi sebagaimana ditemukan dalam sebuah diskusi. Ketiadaan kompromi tersebut mendorong pembicara untuk benar‐benar mencari argumentasi yang kuat atas pendiriannya. Tujuan dari pelaksanaan debat adalah untuk berbicara secara meyakinkan dan juga mendengarkan pendapat­pendapat yang berbeda, dan di akhir debat dapat menghargai perbedaan tersebut.

B. Format Debat

Lomba debat bahasa Indonesia mengadopsi lomba debat dengan sistem parlementer.Unsur‐unsur format tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Terdapat dua tim yang berdebat, masing‐masing tim terdiri dari tiga pembicara yang secara bergilir akan menjadi pembicara pertama, kedua, dan ketiga.
  2. Salah satu tim akan menjadi sisi Pemerintah/Positif, yaitu sisi yang mendukung mosi/topik, dan tim yang lain akan menjadi sisi Oposisi/Negatif, yaitu sisi yang tidak setuju atau tidak mendukung mosi/topik.
  3. Setiap pembicara akan menyampaikan pidato substantif yang berlangsung selama tujuh menit, dengan sisiPemerintah yang maju pertama. Setelah semua pembicaradari kedua tim menyampaikan pidato substantifnya, salah satu pembicara dari masing‐masing tim (pembicara pertama atau kedua) akan menyampaikan pidato pembalas sekaligus penutup kasus, dengan sisi Oposisi yang maju pertama.
  4. Urutan pembicara dalam debat adalah sebagai berikut :
    Pembicara pertama sisi Pemerintah → Pembicara pertama sisi Oposisi → Pembicara ke‐2 sisi Pemerintah → Pembicara ke‐2 sisi Oposisi → Pembicara ke‐3 sisi Pemerintah → Pembicara ke‐3 sisi Oposisi → Pidato pembalas/penutup sisi Oposisi → Pidato pembalas/penutup sisi Pemerintah
  5. Ketika pembicara menyampaikan pidato substantifnya, anggota dari tim lawan dapat mengajukan interupsi.Interupsi dapat disampaikan di antara menit pertama dan menit ke‐ enam. Interupsi tidak boleh disampaikan dalam pidato pembalas/penutup. Pembicara yang sedang menyampaikan pidatonya memiliki hak penuh untuk menerima atau menolak interupsi.
  6. Dalam lomba debat, terdapat seseorang yang berperan sebagai “penjaga waktu/time keeper” yang berfungsi sebagai pemberi sinyal waktu.
  7. Setiap debat dinilai oleh juri denganjumlah ganjil. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
  8. Setiap tim diberikan waktu 30 menit untuk melakukan persiapan setelah mosi/topik diumumkan. Dalam persiapan ini, tim tidak diperbolehkanmenerima bantuan dari siapapun (baik pelatih, guru, teman, maupun orang tua), dan tidak diperbolehkan menggunakan laptop, smartphone, atau alat komunikasi lainnya.

C. Unsur – Unsur dalam Debat

Mosi/Topik

Mosi atau topik merupakan pernyataan positif yang akan menentukan arah dan isi dari suatu debat. Dalam debat, tim yang ditentukan sebagai sisi Pemerintah/Positif harus berargumentasi dalam rangka mendukung mosi, sementara tim sisi Oposisi/Negatif harus menyampaikan argumen dalam rangka tidak mendukung atau menolak mosi tersebut. Berikut adalah beberapa contoh mosi yang telah digunakan dalam turnamen debat nasional dan internasional:

  • Bahwa judi dalam bentuk apapun seharusnya dinyatakan ilegal.
  • Bahwa politisi seharusnya hanya diperbolehkan untuk menempati posisinya dalam periode yang dibatasi.
  • Bahwa profesionalisme telah merusak Olimpiade Olahraga Internasional
  • Sidang mendukung diterapkannya hukuman mati
  • Bahwa pemerintah seharusnya tidak pernah membatasi kebebasan berbicara
  • Sidang ini mendukung intervensi di Suria

Definisi

Debat dapat berlangsung dengan teratur apabila setiap tim memiliki pemahaman yang sama mengenai arti dari mosi. Oleh karena itu, dibutuhkan definisi yang jelas agar setiap orang dapat memahami ruang lingkup perdebatan. Akan terjadi masalah apabila dua tim yang sedang berdebat mengajukan definisi yang berbeda, sehingga fokus dari debat teralih menjadi tentang definisi yang benar, dan bukan mengenai argumentasi‐argumentasi tentang isu sebagaimana semestinya diperdebatkan. Kedua tim harus menghindari debat tentang definisi mana yang benar.

Definisi merupakan pembatasan terhadap suatu mosi agar isu yang diperdebatkan dapat lebih terfokus. Definisi dapat mengklarifikasi mosi. Definisi mencegah ketidakteraturan dalam debat yang dapat menjadikan pertukaran ide dan argumentasi menjadi suatu hal yang membingungkan, karena ada ketidakjelasan terhadap isu yang didebatkan. Suatu definisi seharusnya memiliki hubungan yang logis dengan mosi/topik, dan bukan suatu hal yang dibuat‐buat untuk keuntungan salah satu pihak.

Berikut adalah contoh definisi:

Mosi: Bahwa kuota bukan merupakan jawaban untuk kaum perempuan.

Definisi:

  • kuota: memberikan jumlah kursi minimum sebanyak 30% untuk perempuan dalam DPR
  • bukan merupakan jawaban: bukan merupakan solusi yang tepat untuk mencapai kesetaraan jender di masyarakat

Dengan demikian, keseluruhan definisi adalah: “Memberikan kuota jumlah kursi minimum sebanyak 30% untuk perempuan dalam DPR bukan merupakan solusi yang tepat untuk pencapaian kesetaraan jender di masyarakat”.

D. Argumentasi

Setelah definisi disetujui, baik tim sisi Pemerintah/Afirmatif maupun tim sisi Opoisisi/Negatif harus menyampaikan argumentasi‐argumentasi masing‐masing mengenai alasan mereka mendukung atau tidak mendukung topik tersebut.

Argumentasi yang disampaikan akan menjelaskan mengapa suatu sudut pandang tertentu seharusnya diterima. Argumen yang baik bersifat logis dan relevan terhadap poin yang ingin dibuktikan. Argumen yang baik terdiri atas:

  1. Pernyataan: pernyataan yang ingin dibuktikan
  2. Alasan: alasan dan penalaran yang menyatakan bahwa pernyataan tersebut adalah suatu hal yang logis
  3. Bukti: contoh‐contoh atau data yang mendukung pernyataan dan alasan di atas
  4. Kesimpulan: penjelasan mengenai relevansi antara argumen dan mosi yang tengah diperdebatkan

Sebaiknya setiap tim memiliki dua sampai empat argumen untuk mendukung posisi mereka. Argumen‐argumen tersebut sebaiknya dibagi antara pembicara pertama dan kedua. Dengan demikian, beberapa argumen dijelaskan oleh pembicara pertama, dan sisanya dijelaskan oleh pembicara kedua. Sedangkan, pembicara ketiga memperkuat penjelasan dari pembicara pertama dan kedua dengan menyampaikan kesimpulan argumen tim serta menambahkan alasan dan data yang relevan.

Berikut adalah beberapa contoh argumen:

Mosi : Bahwa kuota bukan merupakan jawaban untuk kaum perempuan.

Definisi: “Memberikan kuota jumlah kursi minimum sebanyak 30% untuk perempuan dalam DPR bukan merupakan solusi yang tepat untuk pencapaian kesetaraan jender di masyarakat”.

Argumen :

Pernyataan: karena memberikan bantuan seperti ini hanya akan memperkuat persepsi dalam masyarakat bahwa perempuan tidak mampu berjuang sendiri.

Alasan: Kini terdapat persepsi yang kuat dalam masyarakat bahwa perempuan merupakan pihak yang lebih lemah dibandingkan laki‐laki. Banyak yang menyatakan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan laki‐laki. Pemberian kuota khusus untuk perempuan di parlemen hanya akan memperkuat persepsi bahwa perempuan hanya dapat sampai diparlemen apabila mereka diberikan bantuan terlebih dahulu, bukan karena mereka memiliki kemampuan yang sama dengan laki‐laki dan dapat memenangkan persaingan untuk menjadi wakil rakyat. Dengan demikian, mosi ini menguatkan persepsi yang salah, yaitu bahwa perempuan tidak mampu sampai pada tingkat yang setara dengan laki‐laki kecuali diberikan bantuan khusus.

Bukti: Di Uganda, opini publik yang tidak mendukung pemberdayaan perempuan meningkat pesat setelah diimplementasikannya kuota parlemen seperti dalam mosi ini.

Kesimpulan: Kuota untuk perempuan dalam parlemen hanya akan memperkuat persepsi negatif yang mendegradasi perempuan, menjauhkan kita dari kemajuan sosialisasi tentang kesetaraan jender.

Apabila tim memiliki lebih dari satu argumen, harus dipastikan bahwa setiap argumen yang disampaikan bersifat konsisten dan tidak saling kontradiksi.

E. Sanggahan

Sanggahan merupakan respon terhadap argumen tim lawan yang terelaborasi secara jelas. Sanggahan disampaikan dalam debat guna membuktikan bahwa argumen tim lawan tidak sepenting yang mereka kemukakan.

Sama halnya dengan argumen, sanggahan yang baik harus memuat alasan, bukti, dan kesimpulan. Dalam merespon argumen tim lawan, sanggahan dapat menunjukkan bahwa argumen tersebut:

1. Tidak relevan terhadap poin yang ingin dibuktikan

Contohnya:

Argumen: “Prostitusi seharusnya dilarang karena prostitusi menciptakan lebih banyak situs porno di internet”.

Sanggahan: “Jumlah situs porno di internet tidak memiliki hubungan sama sekali dengan dilegalkannya prostitusi. Kenyataannya adalah situs porno dapat diakses di banyak negara, terlepas dari negara tersebut melegalisasikan prostitusi atau tidak.

2. Tidak logis

Contohnya:

Argumen: “Siswa seharusnya diperbolehkan untuk merokok di sekolah karena hal tersebut akan menciptakan perlawanan yang lebih kuat dari perokok pasif sehingga akhirnya akan terdapat penurunan jumlah perokok di sekolah.

Sanggahan: “Argumen ini tidak logis, karena memperbolehkan siswa untuk merokok hanya akan menciptakan kondisi permisif yang akan mendorong lebih banyak siswa untuk merokok. Kenyataannya adalah sebagian besar siswa merokok justru karena tekanan dari teman sebaya. Apabila sekolah juga mendukung tekanan lingkungan pertemanan ini, maka fakta bahwa merokok adalah hal yang buruk akan bersifat kabur dan semakin banyak siswa akan berpikiran bahwa merokok itu baik, dan mereka juga ikut merokok.”

3. Salah secara moral

Contohnya:

Argumen: “Pemerintah seharusnya mendukung hukuman mati karena hal tersebut akan menurunkan jumlah populasi di negara kita”.

Sanggahan: “Membunuh orang hanya demi menurunkan angka populasi merupakan suatu tindakan yang tidak bermoral. Individu memiliki hak untuk hidup dan pemerintah seharusnya tidak mengambil hak itu hanya karena mereka sedang kesusahan dalam mengatur jumlah populasi dalam negeri.”

4. Benar, namun tidak penting atau memiliki dampak yang tidak dapat diterima

Contohnya:

Argumen: “Pemerintah seharusnya melarang MTV karena terdapat beberapa program yang tidak berhubungan dengan musik.:

Sanggahan: “Memang benar bahwa beberapa program MTV tidak berhubungan dengan musik, namun pemerintah seharusnya tidak melarang MTV hanya karena mempunyai program di luar musik. Pemerintah akan mengalami kerugian jika mengharuskan stasiun TV menyiarkan program yang sama dengan nama stasiunnya.

5. Didasarkan pada fakta yang salah, ataupun interpretasi yang salah terhadap fakta

Contohnya:

Argumen: “Tingkat pembunuhan semakin meningkat di AS. Hal ini dikarenakan beberapa negara telah menghapuskan hukuman mati.”

Sanggahan: yang mungkin disampaikan:

  • a. “Tingkat pembunuhan tidak meningkat di AS. Bukti menunjukkan bahwa……..”.
  • b. “Apabila angka pembunuhan semakin meningkat, hal ini disebabkan oleh lebih banyaknya pembunuhan yang dilaporkan dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian, secara kenyataan angka pembunuhan sebenarnya tidak meningkat”
  • c. Bukti menunjukkan bahwa hukuman mati (pembunuhan yang dilakukan oleh Negara) dapat mengindikasikan dukungan terhadap kejahatan yang berat dan justru mengakibatkan peningkatan kejahatan yang berat dibandingkan menurunkannya.

Simak Juga : Contoh Soal Debat Pilihan Ganda dan Jawaban

Gambar Gravatar
Assalamualaikum wr.wb. Selamat belajar dan mengerjakan tugas. Lakukanlah terbaik yang kamu bisa, berbagai usaha, pengalaman dan latihan yang kamu lakukan saat ini, pasti bukanlah hal yang sia-sia di waktu yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *